BuolPedia - Perjuangan Kemerdekaan di Sulawesi Tengah: Jejak Pergerakan Nasional di Buol
Latar Belakang
Pergerakan nasional di Indonesia lahir dari kesadaran akan penderitaan dan kesengsaraan yang dialami bersama akibat penjajahan.
Sebelumnya, perjuangan rakyat Indonesia bersifat kedaerahan, sehingga mudah dipatahkan oleh penjajah.
Namun, kehadiran golongan terpelajar yang progresif memicu lahirnya pergerakan nasional yang lebih terorganisir.
Tidak terkecuali di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pergerakan nasional juga berkembang pesat dan memberikan kontribusi penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Kronologi Pergerakan Nasional di Buol
1916: Pengaruh Awal Sarekat Islam
Pada tahun 1916, Abdul Muis dan Tjokroaminoto berkunjung ke Sulawesi Tengah, membawa pengaruh organisasi Sarekat Islam (SI).Hubungan perdagangan antara Buol dan Pulau Jawa, khususnya Surabaya, turut mempercepat penyebaran ide-ide kebangsaan ke wilayah Buol.
Tokoh-tokoh nasional seperti H. Oemar Said Tjokroaminoto dan Ir. Soekarno menjadi inspirasi bagi masyarakat setempat.
1917: Berdirinya Sarekat Islam di Buol
Sarekat Islam didirikan di Buol oleh saudagar lokal Raja Binol dan T. Mangkona pada tahun 1917.Susunan pengurus awalnya adalah Raja Binol sebagai presiden, Pangeran Mangkona sebagai wakil presiden, dan T. Mangkona sebagai sekretaris.
Organisasi ini menjadi cikal bakal gerakan nasional di Buol yang kemudian berkembang pesat.
1919: Kunjungan Abdul Muis ke Buol
Tercatat dalam Handelingen van den Volksraad, vol. 15, tahun 1920, halaman 26, bahwa pada tanggal 11 Mei 1919 Abdoel Moeis dengan perahu mendarat di Bwool dan didampingi oleh Haji Hayun.Mereka kemudian melakukan kunjungan ke Kampung Baru, Toli-Toli untuk menghadiri rapat akbar yang telah direncanakan di sana.
1928: Transformasi Sarekat Islam Menjadi PSII
Pada tahun 1928, Sarekat Islam Buol berubah menjadi Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII).Perubahan ini memperluas ruang gerak organisasi untuk menolak kerja rodi dan membela kepentingan rakyat.
Pada tahun yang sama, Partai Nasional Indonesia (PNI) juga terbentuk di Buol dengan ketua G. Batalipu.
1931: Pendirian Sekolah Islam
PSII mendirikan Sekolah Islam pertama di Buol pada tahun 1931 sebagai bagian dari upaya pendidikan dan pembinaan generasi muda.Selain itu, Muhammadiyah juga mulai menyebarkan pengaruhnya ke wilayah Sulawesi Tengah, termasuk Buol, melalui Gorontalo.
Pada tahun yang sama, organisasi kepemudaan seperti Syarikat Islam Afdeling Pandu (SIAP) dan Muhammadiyah Hisbul Wathan (HW) didirikan untuk membina kader pemuda.
1932-1933: Masuknya Muhammadiyah
Muhammadiyah mulai masuk ke wilayah Donggala, Wani, dan Parigi, lalu meluas hingga ke Buol melalui Tjami Lamato.Kehadiran Muhammadiyah memperkuat pengaruh sosial-keagamaan di daerah tersebut, termasuk dalam bidang pendidikan.
1934: Pembagian PSII Menjadi Dua Cabang
Pada 31 Maret 1934, PSII Buol terpecah menjadi dua cabang, yaitu PSII Buol Barat dan PSII Buol Timur. Langkah ini diambil untuk meningkatkan efektivitas perjuangan di tingkat lokal.1936: Perpecahan PSII
Pada tahun 1936, PSII kembali terpecah menjadi PSII Hijrah dan PSII Coorporatif.Meski terpecah, organisasi ini terus memperluas jangkauan dan fokus perjuangannya, termasuk dalam bidang pendidikan, sosial, dan politik.
Faktor Pendorong Pergerakan Nasional di Buol
Hubungan Dagang dengan JawaInteraksi perdagangan antara Buol dan Pulau Jawa memungkinkan masyarakat Buol terpapar ide-ide kebangsaan.
Peran Tokoh Lokal
Raja Binol, yang memiliki mobilitas tinggi hingga ke Jawa, menjadi anggota Sarekat Dagang Islam (SDI) sebelum kembali ke Buol dan mendirikan SI lokal.
Pendidikan dan Pembinaan Generasi Muda
Upaya mendirikan sekolah dan membentuk organisasi pemuda menjadi sarana penting dalam menyebarkan semangat nasionalisme.
Pengaruh Organisasi Nasional
Kehadiran tokoh-tokoh nasional seperti Abdul Muis, Sangaji, Mr. Iskaq, dan Yusuf Sammah di Buol memberikan pengaruh besar pada perkembangan organisasi lokal.
Kontribusi Pergerakan Nasional Buol dalam Perjuangan Kemerdekaan
Pergerakan nasional di Buol awalnya fokus pada isu-isu lokal seperti penghapusan kerja rodi, keringanan pajak, dan perlawanan terhadap tindakan penguasa kolonial yang tidak adil.Namun, menjelang pecahnya Perang Dunia II, perjuangan di Buol mulai bergeser ke arah yang lebih nasional, seiring dengan meningkatnya kesadaran kolektif untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Melalui pergerakan nasional, Buol telah menunjukkan perannya sebagai salah satu wilayah yang turut berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Semangat para tokoh dan masyarakat Buol menjadi bukti bahwa perjuangan kolektif mampu menggoyahkan dominasi penjajah.
Diringkas dari:
- https://repositori.kemdikbud.go.id/7509/1/SEJARAH%20DAERAH%20SULAWESI%20TENGAH.pdf
- https://repository.ung.ac.id/skripsi/show/231412060/organisasi-pergerakan-nasional-di-kabupaten-buol-sulawesi-tengah-tahun-1917-1945.html
- https://repositori.kemdikbud.go.id/18473/1/Buku%20HOS%20Tjokroaminoto.pdf
muhammadiyah itu udh lama juga berarti yaaaa.. thn 1932 an aja udh ada dan mulai masuk ke buol.. ga heran sih mereka jd organisasi islam paling maju dan besar juga.
BalasHapusBetul mba, pada zaman itu mereka sudah bisa ekspansi hingga ke pedalaman Sulawesi. Betapa militansinya ya luar biasa
HapusPSII jadi salah satu wadah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan ya bang. Tapi baru tahu kalo di Buol Sulawesi Tengah juga ada.
BalasHapusPada zaman itu sungguh luar biasa penetrasinya ya
HapusSaya sangat suka sekali membaca sejarah dari partai PSI termasuk dari tokok sentralnya.
BalasHapusIya mas, dari sejarah kita jadi tahu banyak hal ya
Hapussemalam.sy terbaca di X. Muhammadiyyah antara organisasi terkaya di dunia...
BalasHapusBenar Cik, asetnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia
Hapus